Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Agustus 2009

Merdeka dari Terorisme

Sumber: Jambi Ekspress

Pada upacara bendera memperingati detik-detik proklamasi kemerdekaan di Istana Merdeka kemarin (17/8), pasukan pengamanan presiden (Paspampres) menyiapkan skenario pengamanan lebih ketat daripada biasanya. Skenario pengamanan yang disiapkan itu, antara lain, pengerahan EOD (Explosive Ordnance Disposal) Team. Tim ini dibentuk untuk menangani ancaman bom dan bahan berbahaya.

Selain itu, ada prosedur baru yang tak biasa diterapkan. Yakni, pemeriksaan ulang seluruh daftar tamu dan barang-barang pendukung upacara. Misalnya, pemeriksaan ketat terhadap mobil katering, makanan, karangan bunga, bahkan karpet.

Semua itu dilakukan untuk mengantisipasi serangan teroris kelompok Noordin M. Top. Seperti diberitakan, pada pengepungan markas teroris di kompleks perumahan Jatiasih, Bekasi, 8 Agustus lalu, terungkap adanya skenario kelompok Noordin untuk menyerang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Serangan tersebut direncanakan diarahkan ke kediaman SBY di Cikeas. Bahkan, menurut informasi yang dihimpun tim Densus 88, kelompok teroris itu sudah menyiapkan satu unit mobil boks, lengkap dengan "calon pengantin" (pelaku bom bunuh diri). "Calon pengantin" tersebut disebut-sebut adalah Ibrohim yang tewas dalam pengepungan di Temanggung, 8 Agustus itu.

Tak ingin kecolongan dalam mengamankan presiden, berdasar informasi itu, prosedur pengamanan pada upacara detik-detik proklamasi kemerdekaan kemarin pun dibuat lebih ketat daripada biasanya.

Syukurlah, hingga upacara penurunan bendera sore kemarin, tidak terjadi insiden sekecil apa pun.

Serangan teroris, terutama dari kelompok Noordin M. Top, memang patut diekstrawaspadai. Mereka bisa menyerang pada saat yang tak terduga-duga dan di tempat yang juga tak terduga-duga.

Ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton pada 17 Juli lalu adalah contoh serangan yang waktunya tak terduga-duga (pada saat aparat keamanan masih siaga setelah seminggu pilpres) dan dilakukan di tempat yang tak terduga (Hotel JW Marriott pernah diledakkan pada Agustus 2003).

Jika selama ini pola serangan Noordin cs mengarah ke tempat-tempat yang menjadi simbol Amerika dan negara-negara sekutunya, bisa jadi, kelak beralih ke simbol-simbol negara kita. Tidak mustahil, mereka menyerang presiden.

Pola serangan teroris yang mengarah ke simbol negara itu, sebagaimana diungkapkan Walter Laqueur (penulis buku History of Zionism) di sebuah jurnal internasional, sering dilakukan para teroris pada abad ke-19.

Karena itu, cara paling efektif untuk menangkal serangan teroris tersebut adalah bertindak waspada dan lebih waspada. Jika boleh mengibaratkan, teroris itu seperti sel kanker di tubuh manusia. Sel kanker tersebut akan menggeliat, mengganas, dan menyerang organ-organ vital jika zat antibodi (kekebalan tubuh) melemah. Sebaliknya, jika zat antibodi menguat, sel kanker akan tiarap.

Kita tentu berharap, teroris tidak hanya tiarap di negeri ini, melainkan benar-benar bisa ditumpas hingga ke akar-akarnya. Dengan demikian, negara ini benar-benar merdeka dari ancaman dan serangan teroris.

Memang, saat ini, Noordin dan beberapa pengikutnya (Reno alias Tedy alias Mubarok dan Saefudin Jaelani) masih belum tertangkap. Boleh jadi, kita pun masih belum tenang. Karena itu, marilah kita beri dukungan penuh tim Densus 88 agar bisa melaksanakan tugasnya dengan maksimal. (*)

Jumat, 28 Agustus 2009

Pelajaran dari Sipadan dan Ligitan

Pelajaran dari Sipadan dan Ligitan HUBUNGAN bilateral Indonesia-Malaysia penuh dengan emosi. Hubungan kita dengan tetangga yang satu itu bagai interaksi kakak-adik yang penuh dinamika. Suatu saat keduanya saling membantu, namun di lain kesempatan terlibat perang urat saraf. Bahkan, sejarah perang fisik pun pernah dilalui.

Pasang surutnya hubungan kedua negara tak lepas dari adanya kesamaan latar belakang budaya dan sejarah. Sama-sama berbasis budaya Melayu. Bahasa yang dipakai juga berasal dari akar yang sama dan berada dalam rivalitas siapa yang menjadi ''raja'' Melayu.

Sayang, dalam rivalitas itu, Malaysia bersikap kurang sportif. Kekayaan budaya Indonesia sering diklaim Kuala Lumpur. Bukti terakhir adalah kasus tari pendet yang menjadi bagian kampanye pariwisata mereka. Wajar kita curiga bila Bali yang masyhur di seantero dunia itu ingin dimanfaatkan Malaysia untuk membangkitkan gairah dunia pelancongan mereka.

Ini bukan yang pertama, tentu. Kita masih ingat kasus reog Ponorogo atau lagu Rasa Sayange yang membuat emosi rakyat Indonesia seperti api tersiram bensin. Perasaan itu tergambar dari pernyataan SBY yang meminta agar pemerintah Malaysia menjaga sensitivitas bangsa Indonesia.

Bukan hanya di bidang budaya, Malaysia juga melakukan manuver dalam klaim batas negara. Kasus Laut Ambalat, misalnya. Sampai saat ini, negeri jiran itu berusaha mengambil alih. Beberapa kali kapal perang mereka memasuki kawasan kaya minyak wilayah NKRI itu.

Menghadapi manuver dan tekanan Malaysia tersebut, kita tak boleh lengah. Masih ingat kasus perebutan Pulau Sipadan dan Ligitan. Pulau strategis itu akhirnya jatuh ke tangan Malaysia setelah melalui proses di Mahkamah Internasional dan kini telah menjadi salah satu ikon pariwisata negeri tersebut. Kita hanya bisa gigit jari.

Kasus lepasnya Sipadan dan Ligitan tersebut menjadi pelajaran berharga. Malaysia menang karena secara intensif memberi perhatian terhadap pulau itu. Mereka mendirikan bangunan sebagai simbol bahwa mereka telah ''merawat'' dan menjadi pemilik pulau indah itu.

Pelajaran dari kasus ini: kita tidak boleh kehilangan perhatian terhadap aset yang kita miliki. Garis perbatasan yang berpotensi dicaplok Malaysia harus kita jaga dengan penuh perhatian. Kalau kita kurang perhatian terhadap Ambalat, laut kaya itu pun bisa lepas dari milik kita.


Di bidang seni dan budaya, kita juga tak boleh lengah. Segala aset yang kita miliki harus dijaga, baik dari sisi legal (hak cipta) maupun eksistensinya. Reog Ponorogo, misalnya. Pemerintah harus berperan besar mendorong masyarakat untuk tetap melestarikannya. Begitu pula, tari-tari lain yang begitu kaya di bumi Nusantara ini harus kita lestarikan. Kita jangan hanya berteriak setelah dicaplok negeri jiran. (*)

Rabu, 26 Agustus 2009

Noordin Makin Top

Sumber: Jambi Ekspress

Oleh: H. Adrianus Chatib

KATA-kata teroris-terorisme tidak menjadi asing lagi di telinga kita dewasa ini. Sekalipun dulu, ketika terjadi pembunuhan lewat bom terhadap manusia yang tidak jelas apa kesalahannya atau tidak bersalah sama sekali, ungkapan “teroris” sangat menyeramkan serta menakutkan.

Betapa tidak, terhadap seseorang yang melakukan tindakan kekerasan lewat bom terhadap orang lain – benar atau tidak - dituduh teroris. Disamping, tindakan teroris itu ada di mana-mana di dunia ini, mulai dari Amerika sampai ke Timur Tengah; bahkan tak terkecuali di Asia Tenggara dengan Indonesia dipandang sebagai pusat gerakannya, maka akhirnya kata teroris sudah jinak di telinga kita.

Lebih dari itu sebenarnya aktivitas yang menjijikan ini - tanpa disadari- sudah akrab saja bahkan telah dipaksa menjadi konsumsi/menu harian telinga dan mata kita.

Itulah sebabnya, Noordin M. Top (warga negara Malaysia) sebagai otak pelaku teror bom itu dengan jaringan beserta anak asuhnya setelah Dr Azahari tertembak mati beberapa waktu yang silam, menjadi semakin top dan tenar saja. Ia dikatakan masih ada, karena belum tertangkap.

Tapi, Top tidak pernah ada setiap kali terjadi pengeboman. Namun demikian, ia tetap disebut-sebut sebagai orang paling bertanggung jawab terhadap tindakan terorisme di Tanah Air kita.

Siapa sebenarnya. Noordin itu?; kenapa ia tidak kunjung tertangkap? Apa benar Noordin sudah jadi ustadz. Sedang berada dimana ia sekarang? menarik untuk ditelusuri dari sisi yang tidak biasa dilihat oleh pengamat politik.

Teroris Sebagai Bahaya Laten

Terorisme dilihat dari sejarahnya , tidak pernah lenyap dimuka bumi ini. Yang lenyap hanyalah nama atau sebutannya; berganti “topeng” dari masa ke masa. Sejak peristiwa Qabil dan Habil putera Adam AS. sang kakak membunuh adiknya; Nabi Yusuf yang dikeroyok oleh 11 orang saudaranya sampai dengan peristiwa Umar bin Khattab dan seterusnya Ali Ibn Ali Abi Thalib dibantai oleh mantan mualaf keturunanYahudi.

Gerakan teroris sudah agak lama menghilang dari pendengaran, kemudian tiba-tiba muncul lagi. Peristiwa teror yang paling hebat adalah pada 11 September beberapa tahun yang lalu di Amerika Serikat yang berakibat hancurnya Gedung World Trade Centre dan ratusan jiwa melayang.

Kalau kita runut penyebab lahirnya teroris dan terorisme tidak lepas dari persoalan: 1) ketidakadilan atau ketertindasan; 2) ketimpangan ekonomi/kemiskinan; 3) kesalahan memahami dogma agama bagi masing-masing umat; 4) niat pelaku; 5) kesempatan/ kelengahan. Kelima faktor ini saling kait berkait; yang satu disebabkan yang lain dan seterusnya, akhirnya mengerucut pada kesalahan memahami konsep jihad yang berwujud pada pembenaran (baca: dipandang terpuji) bila melakukannya.

Di saat puncak tersebut menggoda, aparat dan security sedang lengah sehingga kesempatan menganga. Kalau dikiaskan kepada koruptor dan orang maling atau perampok bahwa bukan hanya faktor niat saja yang berperan disamping faktor lainnya, tapi faktor peluang merupakan hal dominan juga; sekalipun niat ada, kesempatan tidak ada, perampokan tidak akan terjadi.

Itulah salah satu alasan bahwa terorisme dikatakan laten yang pada satu ketika ia seperti lenyap, dan pada saat lain dia muncul tanpa di duga atau karena salah duga/ perkiraan.

Dengan demikian, para pelaku teror ketika peristiwa ini hangat dibicarakan, mereka tiarap dulu atau menikmati kemenangan menurut pandangan mereka. Ingat, di saat aparat sudah tidur-tiduran atau tidur pulas, mereka akan beraksi lagi. Disitulah letak latennya terorisme itu. Lalu dimana Noordin M. Top?

Noordin Tak Kunjung Tertangkap

Noordin adalah sosok teroris yang berada di belakang aktivis terorisme yang terjun kelapangan. Terlepas dari bahwa ialah yang paling berbahaya atau tidak, bahwa ia mempunyai pengaruh besar di kalangannya dan di masyarakat dimana ia berada.

Oleh karena itu, ia sulit dan bahkan tidak mungkin ditangkap, karena ia bahagian integral dari masyarakat pencintannya.

Ada beberapa alasan kerumitan menangkap Noordin antara lain: 1) besar kemungkinan ia disembunyikan oleh masyarakat; 2) Noordin sudah menjadi ustadz panutan dimana ia bermukim baik dalam rencana sementara atau untuk berlama-lama; 3) Adanya penyandang dana yang luar biasa. Kenapa ia disembunyikan penduduk setempat. Karena, ajarannya menyentuh hati masyarakat pencintanya, walaupun ajaran tersebut belum tentu benar. Dalam arti, masyarakat sangat terkesan dengan himbauan dan penyampaian-penyampaiannya, sehingga ia ditengah pengikutnya dipandang sebagai “wali” yang suci dan penyelamat masyarakat. Justru itu, kalau ada orang yang ingin mencari, apalagi berniat untuk membunuhnya, masyarakat pencintanya berada didepan dengan segala usaha menyembunyikan keberadaannya, sehingga tangan aparat tidak bisa menjangkaunya.

Disamping itu, ia sudah menjadi ustadz (baca: guru spiritual masyarakat). Konon kabarnya, ia juga pemurah lagi dermawan. Kedermawanan seorang ustadz menjadikan rakyat pendukungnya memberikan cinta berlebihan kepadanya. Dengan alasan itu, tidak masuk akal kalau rakyat pengikutnya membukakan rahasia tempat persembunyian gurunya, sepanjang “murid” mencintainya. Selanjutnya, dengan ada dana operasional dari donatur Noordin dapat berbuat dan membuat serta bergerak kemana saja yang ia maui, seperti merakit bom yang memerlukan kecerdasan dan dana. Siapa penyandang dananya, sampai hari ini belum bisa diketahui secara pasti.

Sebaliknya Noordin sebenarnya mudah untuk ditangkap dengan alasan: 1) ia adalah orang asing di Indonesia; 2) bertetangga dengan siapapun pasti orang akan tahu dengan siapa dia yang sebenarnya; 3) kalau berada di hutan berlama-lama, ia akan makan apa kalau tidak disuplai oleh pengikut setianya.

Orang asing yang tinggal di daerah manapun gampang untuk diketahui, asal masyarakat mau melaporkannya. Di RT manapun ia tinggal, pak RTnya pasti tahu dengan warganya sekalipun orang baru. Karena ada peringatan bagi warga yang tinggal di suatu RT tanpa izin: “wajib lapor satu kali 24 jam”. Kalau begini betul-betul diterapkan bagaimana mungkin si Noordin bisa bersembunyi dan dapat lolos dari intipan warga setempat.

Kalau lolos juga, yang meloloskan di duga kuat pak RT dan warganya. Seterusnya, kalau ia tinggal dan bersembunyi di luar desa yang jauh dari pusat keramaian, ia tetap saja membutuhkan sandang, papan dan pangan. Siapa yang menyuplai keperluannya, kalau bukan masyarakat pencintanya. Ia akan mati kelaparan kalau pengikutnya tidak lagi membela dan menyampaikan makanan serta kebutuhan lain kepadanya.

Upaya

Tidaklah terlalu sulit, kalau Noordin benar-benar mau ditangkap. Dengan dua metode saja, Noordin segera akan tertangkap. Caranya adalah dengan mengupayakan; 1) agar masyarakat Indonesia 100 % menyatakan dan melakukan dengan perbuatan bahwa mereka betul-betul anti teroris. Dengan demikian, akhirnya tak sejengkalpun tanah ini dapat dihuni oleh orang asing tanpa diketahui identitas aslinya. 2) agar aparat betul-betul serius pula luar-dalam dan kapanpun serta dimanapun menangani dengan mengejar pelaku teror sampai tuntas. Bila hal itu benar-benar dilakukan, Insyah Allah dalam waktu dekat Noordin akan tertangkap. Allah ‘alam bi ayyi ardhin yakun.

Kamis, 13 Agustus 2009

Mau Kaya dan Masuk Surga? Jadi Guru.....!

Sumber: Yanto, S.Pd, M.Ed (Jambi Ekpress)

JUDUL di atas bukan olok-olokan atau main-main. Saya sangat yakin bahwa profesi guru dapat menjadikan seseorang kaya dan masuk surga. Tapi tentu saja bila kita mau melihatnya dengan menggunakan logika langit.

Dimana logikanya? Sederhana saja. Dengan kenaikan gaji guru awal tahun ini, maka penghasilan guru sudah mulai membaik. Apalagi bila yang bersangkutan dapat lulus dalam sertifikasi, maka cerita Oemar Bakri yang hanya bersepeda kumbang sejak zaman Jepang akan tinggal kenangan.

Guru Kaya

Pertanyaannya adalah apakah dengan adanya kenaikan gaji guru tersebut dan lulusnya sertifikasi akan serta merta membuat seorang guru kaya? Jawabannya ya dan tidak. Tergantung bagaimana kita memahami makna kaya. Karena berapapun penghasilan seseorang tidak menjamin bahwa dirinya akan merasa kaya atau tidak.

Pasalnya, setiap orang memiliki definisi sendiri tentang kaya. Namun secara kasat mata, nominal penghasilan guru dengan adanya kenaikan gaji dan lulusnya sertifikasi, jelas sekali akan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Setidaknya bertambah satu kali lipat dari penghasilan sebelumnya.

Bila seorang guru dapat mengelola keuangan keluarganya dengan hemat dan cermat, maka guru kaya secara finansial akan dapat diwujudkan. Sebaliknya, berapapun penghasilan namun jika tidak dapat mengelolanya dengan baik, maka jangan harap bisa hidup sejahtera.

Sedangkan makna kaya secara spiritual dengan mudah dapat dicapai bila guru bersangkutan menerapkan prinsip Quantum Qanaah. Prinsip ini mengajarkan bahwa dengan merasa cukup atas apa yang diberikan Allah kepadanya akan membuat seseorang merasa dirinya kaya. Quantum Qanaah juga mengajarkan bahwa kita jangan sampai membatasi rezki kita pada segala sesuatu yang dapat dinilai dengan uang saja.

Kesehatan, kerukunan dalam keluarga serta dapat membina hubungan baik dengan orang lain adalah juga bentuk lain dari kekayaan rezeki yang nilainya melebihi uang. Kesempatan untuk beribadah dengan memberikan ilmu buat peserta didik juga dapat dipandang sebagai rezeki.

Menggapai Surga

Surga diciptakan Allah untuk memberikan balasan atas perbuatan baik yang dilakukan hambaNya selama di dunia ini. Profesi guru adalah salah satu profesi yang sarat dengan kebaikan. Seorang guru memberikan ilmu yang ia miliki kepada muridnya. Selama muridnya mengamalkan apa yang diajarkan oleh gurunya, maka selama itu pulalah sang guru memperoleh pahala yang tidak putus-putusnya (Al-Hadist). Bahkan walau guru tersebut telah meninggal dunia sekalipun. Bayangkan bila seorang guru telah mengabdi sepuluh tahun lebih.

Berapa banyak ilmu yang telah diberikan kepada muridnya yang jumlahnya mungkin mencapai ribuan. Semua itu tentu dihitung oleh Allah SWT karena sekecil apapun perbuatan seseorang akan senantiasa mendapatkan ganjaran.

Inilah yang dimaksud bahwa seorang guru dapat meraih surga dengan tetap menjadi guru.

Syeikh Muhammad Abdullah ad-Duweisy dari Arab Saudi bahkan pernah mengatakan bahwa seorang guru yang meninggal dunia akan memperoleh pahala yang tak putus-putusnya dari amal yang ia lakukan melalui mengajar.

Tidak itu saja, guru juga beroleh sadaqah jariyah berupa ilmu yang ia sedekahkan. Doa dari muridnya yang sholehpun akan ia peroleh. Jadi, pahala luar biasa sudah menanti bagi mereka yang berprofesi sebagai guru.

Barangkali bagi sebagian kita pahala dan dosa tidak populer lagi. Namun jangan lupa, memang itulah inti dari hidup kita ini. Mencari pahala dan menghindari dosa. Kemudian segalanya akan ditimbang bila kita dipanggil kelak. Tempat penampungan terakhir hanya ada dua. Surga dan neraka. Segalanya akan berakhir di dua tempat itu. Tidak ada pilihan ketiga.

Memakai Logika Langit

Bila kita sering menggunakan logika bumi, maka akan sering kita dengar bahwa profesi guru adalah profesi yang kering dan tidak punya masa depan yang cerah. Namun bila kita mau menukar logika kita dengan logika langit, maka paradigma kita akan segera berubah. Yang dimaksud dengan logika langit adalah logika berdasarkan keyakinan dan keimanan dan bukan berdasarkan hawa nafsu duniawi. Sekedar mengingatkan, hidup tidak hanya di dunia ini. Perjalanan panjang telah menanti setelah hidup kita berakhir.

Di sanalah logika langit ini akan berguna. Namun ini tentu saja bagi yang percaya. Bagi yang tidak, silakan aja. Toh kita akan menjalani masing-masing. (*)

Minggu, 19 Juli 2009

Flu Babi? Apa Kata Alquran

Oleh : H. Adrianus Chatib

KETIKA flu babi menjadi topik pembicaraan di mana-mana, baik di kalangan medis maupun media masa, menjadikan pemikiran kita terusik mengingat seorang pakar bedah yang bertitel Prof. Dr. di Prancis yang mengikrarkan syahadat sebagai tanda kemuslimannya, setelah meneliti mummi Fir’aun berdasarkan informasi Alquran dengan studi perbandingan terhadap objek yang sama dielaborasi oleh Taurat dan Injil.

Prof. ahli bedah tersebut tidak lain adalah Maurice Bucaille. Ia lahir di Pont-L’Eveque, Prancis pada 19 Juli 1920. Berkat penelitiannya tentang mummi Fir’aun dalam buku : Les Momies des Pharaons et la Midecine Bucaille mendapat berbagai penghargaan sebagai pengakuan kualitas akademiknya di dunia.

Setelah diawali dengan kebingungan dirinya terhadap informasi Musa a.s. yang dikejar Fir’aun sebagai mana dibacanya dalam Taurat dan Injil. Taurat hanya membicarakan bahwa Fir’aun beserta pengikutnya tenggelam di tengah laut ketika memburu Musa a.s.

Sama halnya dengan Taurat, Injilpun tidak berbeda informasinya tentang kisah Fir’aun yang mengejar-ngejar Musa a.s. Kedua kitab tersebut tidak membicarakan dimana jasad Fir’aun berada.

Hanyalah Alquran dengan tegas sekali mengatakan bahwa jasad Firaun diselamatkan oleh Allah -sekarang mumminya tersimpan di museum piramida- sebagai bukti sejarah kebenaran informasi Alquran bagi umat-umat yang datang kemudian sebagimana firmanNya : “Maka pada hari ini, Kami selamatkan badanmu (jasadmu) supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya sebagian besar manusia masih lengah/abai terhadap tanda-tanda kekuasaan Kami” (QS. Yunus :92).

Dengan merenungkan ayat ini, Bucaille menemukan jawaban kebenaran yang sesungguhnya tentang jasad/mummi Fir’aun setelah ditenggelamkan, kemudian diselamatkan Allah dan selanjutnya dimummikan oleh masyarakat Mesir kuno. Dengan peristiwa yang meyakinkan itu hatinya bergetar, lalu ditengah-tengah kerumunan tim peneliti ia berdiri seraya berucap : “Sungguh aku masuk Islam dan aku beriman kepada Alquran ini”. Hasil penelitian inilah yang mengantarkannya kepintu gerbang iman yang kemudian penelitian itu diterbitkan dalam buku dengan judul : La Bible Le Coran et la Science (Bibel, Alqur’an dan Sains Modern, 1976).

Selanjutnya, bagaimana informasi Alquran terhadap babi dan flunya yang dengan virus A- H1N1 yang dapat membunuh manusia itu? Ikuti uraian berikut.

Informasi Alquran Tentang Babi

Paling tidak ada dua ayat Alquran yang langsung membicarakan tentang babi dan posisi manusia yang bersentuhan dengan dagingnya. Pertama, Allah menginformasikan melalui wahyuNya di dalam surat al-Maidah = hidangan (QS, 5;3). Penggalan ayat ini artinya adalah sebagai berikut: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, daging yang disembelih atas nama selain Allah, yang dicekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang dimakan binatang buas kecuali yang sempat kamu menyembelinya, dan yang disembelih untuk berhala. Dan diharamkan pula bagimu mengundi nasib dengan anak panah, karena itu sebagai kefasikan”.

Kedua, Allah tegaskan lagi bahwa babi itu termasuk hewan yang haram dikonsumsi oleh kaum muslimin sebagaimana terdapat pada surat al-An’am ayat 145; “Katakanlah: Tidaklah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya”. Kecuali jika ia itu adalah bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi, karena sesungguhnya semuanya kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah”. Sayyid Sabiq, dalam Fiqh al-Sunnah, h; 103-104 menyimpulkan bahwa kedua ayat tersebut di atas tidaklah kontradiktif dalam membicarakan keharaman babi yang diinformasikan oleh ayat pertama dan kedua. Artinya, kedua ayat itu menyatakan bahwa babi benar-benar haram.

Hanya saja dari sudut volumenya, ayat pertama lebih rinci dari ayat yang kedua. Ayat pertama menyimpulkan 10 bentuk makanan yang haram; sementara ayat kedua membicarakan 4 hal yang haram secara garis besarnya saja.

Alasan para ulama mengharamkan babi, disamping merujuk kepada wahyu Allah adalah bahwa babi itu; 1) jorok-kotor; 2) suka memakan hal yang kotor dan najis; 3) berbahaya untuk segala iklim, terutama daerah tropis seperti Indonesia. Hal ini telah dibuktikan melalui eksperimen; 4) dagingnya mengandung cacing yang ganas yang dapat mematikan manusia; 5) memakan dagingnya berpengaruh pada perilaku seseorang, efek psikologis (baca: kebabi-babian) (Rasyid Ridho, dalam Tafsir al-Manar)

Sekalipun Allah menggunakan kata hurrimat dengan pengertian diharamkan untuk mu daging babi, bukan berarti yang dilarang itu hanya memakan dagingnya. Akan tetapi, apa yang bersangkut paut dengan babi dilarang seperti mengkonsumsi daging, tulang, otak babi dst, memperdagangkan dan membudidayakannya.

Justru itu terhadap babi disamping haram zatnya juga haram hal-hal yang berkaitan dengannya. Itulah agaknya Allah melarang dengan memakai kata hurrimat karena tidak tertuju larangan itu spesifik untuk memakan dagingnya. Kalaulah Allah hanya melarang memakan dagingnya, tentulah kata-kata yang lebih tepat digunakan adalah la ta’kulu = jangan kamu makan ... Dengan demikian, dalam konteks ini penyebaran flu babi bukan hanya disebabkan karena mengkomsumsinya. Bisa saja-malah banyak terjadi-penularannya melalui udara, penciuman dsb.

Begitu dahsyatnya penularan flu babi yang sekarang baru diketahui melalui teknologi kedokteran moderen; pada hal Alquran 15 abad yang silam telah menginformasikan bahwa babi itu haram dan sangat berbahaya.

Temuan Pakar

Berikut ini petikkan dialog pakar tentang keharaman darah dan babi. Sebut saja pakar kedokteran bernama Boby; sedangkan pakar hukum Islam bernama M. Yunus terlibat dalam tukar pikiran secara dialogis sebagai berikut:

Bob: Tolong beritahu saya, mengapa seorang Muslim sangat mementingkan mengenai kata-kata “Halal” & “Haram”; apa arti dari kata-kata tersebut?

Yunus: Apa-apa yang diperolehkan diistilahkan sebagai halal, dan apa-apa yang tak diperolehkan diistilahkan sebagai haram, dan Alquran-lah yang menggambarkan perbedaan antara keduanya!.

Bob: Dapatkah Anda memberkan contoh?

Yunus: Ya, Islam telah melarang segala macam darah. Anda akan sependapat bahwa analisis kimia dari darah menunjukkan adanya kandungan yang tinggi dari uric acid (asam urat), suatu senyawa kimia yang bisa berbahaya bagi kesehatan manusia.

Bob: Anda benar mengenai sifat beracun dari uric acid, dalam tubuh manusia, senyawa ini dikeluarkan sebagai kotoran, dan dalam kenyataannya kita diberitahu bahwa 98% dari uric acid dalam tubuh, dikeluarkan dari dalam darah oleh Ginjal, dan dibuang keluar tubuh melalui air seni.

Yunus: Sekarang saya rasa Anda akan menghargai metode prosedur khusus dalam penyembelihan hewan dalam Islam.

Bob: Apa Maksud Anda?

Yunus: Begini... seorang penyembelih, selagi menyebut nama dari Yang Maha Kuasa, membuat irisan memotong urat nadi leher hewan, sembari membiarkan urat-urat dan organ-organ lainnya utuh.

Bob: Oh begitu... dan hal ini menyebabkan kematian hewan karena kehabisan darah dari tubuh, bukannya karena cedera pada organ vitalnya.

Yunus: Ya, sebab jika organ-organ, misalnya jantung, hati, atau otak dirusak, hewan tersebut dapat meninggal seketika dan darahnya akan menggumpal dalam urat-uratnya dan akhirnya mencemari daging. Hal tersebut mengakibatkan daging hewan akan tercemar oleh uric acid, sehingga menjadikannya beracun; hanya pada masa sekaranglah, para ahli makanan baru menyadari akan hal ini.

Bob: Selanjutnya, selagi masih dalam topik makanan; Mengapa para Muslim melarang pengonsumsi daging babi atau makanan lainnya yang terkait dengan babi?

Yunus: Lebih lanjut lagi, apakah Anda tahu kalau babi tidak dapat disembelih di leher karena mereka tidak memiliki leher, sesuai dengan anatomi alamiahnya? Muslim beranggapan kalau babi memang harus disembelih dan layak bagi konsumsi manusia, tentu Sang Pencipta akan merancang hewan ini dengan memiliki leher. Namun diluar itu semua, saya yakin Anda tahu betul mengenai efek-efek berbahaya dari komsumsi babi, dalam bentuk apapun, baik itu pork chops, ham, atau bacon.

Bob: Ilmu Kedokteran mengetahui bahwa ada risiko besar atas banyak macam penyakit. Babi diketahui sebagai inang dari banyak macam parasit dan penyakit berbahaya.

Yunus: Ya, dan diluar itu semua, sebagaimana kita membicarakan mengenai kandungan uric acid dalam darah, sangat penting untuk diperhatikan bahwa sistem biochemistry babi mengeluarkan hanya 2% dari seluruh kandungan uric acidnya, sedangkan 98% sisanya tersimpan dalam tubuhnya.

Kecanggihan Informasi Alquran

Mengintip pengalaman penelitian Bucaille tentang mummi Fir’aun di Mesir yang menyisakan tanda tanya besar bagi kaum intelektual tentang jasad Fir’aun, secara tuntas dan meyakinkan dijawab oleh Alquran sebagaimana telah diuraikan. Dengan demikian, Alquran bukanlah buatan Muhammad SAW sebagai tuduhan sebagian besar orentalis terhadap Islam. Alquran betul-betul bersumber dari zat Yang Maha Tahu-tidak apa-apa dibandingkan dengan Enstein si jenius itu- maka prediksi dan informasi Alquran dijamin benar dan belum pernah meleset. Setelah ilmu pengetahuan moderen melalui penelitian Bucaille yang akurat tentang mummi Fir’aun disimpulkan bahwa jasad Fir’aun tidak terkubur dilaut sebagaimana telah diinformasikan oleh Alquran.

Begitu juga, dewasa ini dengan berjangkitnya flu babi melalui virus A-H1N1 yang mematikan itu, Alquran telah dengan tegas sekali memberi the red under line bahwa babi dilarang memelihara, memperdagangkan, mengkomsumsi serta membudidayakannya jauh sebelum pakar kedokteran moderen berpendapat demikian dalam bentuk preventif tentang babi dan penularan flunya. Subhanallah wa Huwa al- Robb al- ‘Alim al- Hakim. Mudah-mudahan kasus flu babi ini melahirkan para Maurise Bucaille yang baru. (*) Insyaallah.

Satu Keluarga, Satu Sarjana?

JAKARTA, KOMPAS.com - Idealnya, minimal di setiap satu keluarga di Indonesia memunyai satu orang sarjana. Dengan begitu, pendidikan di Indonesia bisa merata dan diharapkan ikut meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan kemajuan pembangunan ekonominya di segala bidang dan daerah.

Membidik harapan seperti itulah PT Mobile-8 Telecom Tbk (Mobile-8) dan Badan Amil Zakat Nasiona (Baznas) meluncurkan program 'Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS)'. Program tersebut merupakan program beasiswa melanjutkan pendidikan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), yang diberikan kepada para pelajar dari keluarga yang belum mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

Menurut Direktur Penjualan dan Pemasaran Mobile-8, Beydra Yendi, program SKSS diluncurkan untuk menumbuhkan kepedulian pelanggannya kepada para sesama dan membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat melalui pendidikan.

"Khususnya menumbuhkan kepedulian para putra daerah untuk memajukan daerahnya dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di daerah tersebut," ujar Yendi.

Menurutnya, semua pelanggan Mobile-8, baik Hepi atau Fren, dapat berpartisipasi mengikuti program ini dengan sangat mudah. Pelanggan cukup mengirimkan SMS atau layanan pesan singkat. Pendaftaran program dilakukan dengan mengirimkan SMS yang akan dipotong dari pulsa pelanggan sebesar Rp2.500.

Sementara itu, menurut ketua Baznas Didin Hafidhuddin, selain untuk memotivasi rasa kepedulian umat agar menunaikan zakat, infak, dan sekedah, pemberian beasiswa ini juga untuk mengetuk rasa kepedulian umat bahwa pendidikan merupakan persoalan seluruh masyarakat negeri ini.

Untuk program SKSS ini, Mobile-8 dan Baznas melibatkan 10 PTN di sepuluh provinsi di Indonesia, yaitu Universitas Indonesia (UI), Universitas Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Andalas, Universitas Hasannudin, Universitas Padjajaran, Universitas Mulawarman, Universitas Mataram, Universitas Patimura, serta Universitas Cendrawasih.

Terima Kasih